Jumat, 18 Mei 2012

Ada Masalah Dengan Bersepeda? (Part I)


            Matahari bersinar terik di depan mataku, menyilaukan penglihatanku. Debu berterbangan, menyapu jalanan yang penuh dengan mobil yang berjalan hilir mudik. Aku duduk di kursi halte, menunggu kendaraan memberi tumpangan padaku. Tak lama setelah itu, seorang anak berjalan ke hadapanku.
            “Hai, Fir. Belum berangkat sekolah?”anak itu tak lain adalah sahabatku sendiri–Arisa.
            “Eh, Risa. Berangkat bareng, yuk. Ini masalahnya dari tadi nggak ada taksi!”desahku kesal sambil merapikan rambut.
            “Jangan naik taksi, ah. Ayo naik sepeda bersamaku!”
            Arisa menarik tanganku pelan, membawaku ke sebuah tempat sewa sepeda. Lelaki separuh baya duduk manis di kursi goyang. Kertas koran menutupi wajahnya, sehingga agak sulit untuk melihat wajahnya yang sebenarnya. Aku terdiam di sudut ruangan, memilah-milah sepeda yang cocok. Ada berbagai macam sepeda di sana, dari sepeda ontel sampai sepeda lipat.
            “Pak?”aku menyapa lelaki yang wajahnya tertutup koran itu.
            “Ah, iya? Ada apa, Nak? Mau menyewa sepeda, ya? Aduh, maaf sekali tadi saya terlelap, habisnya jarang sekali orang mau menyewa sepeda. Mereka beranggapan bersepeda itu sama sekali membuat tubuh menjadi pegal, padahal menyehatkan.”lelaki itu berdiri. “Eh, Risa. Mau menyewa lagi?”
            “Iya nih, Pak. Saya juga bawa pelanggan baru. Namanya Safira.”
            Pak Suharjo tersenyum pelan kepadaku, lalu mengajak kami untuk melihat koleksi sepeda terfavoritnya. Dia bilang, sewa sepeda ini dahulu sangat laris, dan juga semua sepeda yang dia punya adalah sepeda kiriman dari anaknya di Jerman, yang bekerja di pabrik sepeda ternama di sana. Anaknya adalah orang sukses yang sedang menggeluti pembuatan sepeda. Anaknya sering mengajak Pak Suharjo untuk tinggal di Jerman, tetapi beliau selalu menolaknya karena mempunyai tekad besar untuk menurunkan penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak) di Indonesia.
            “Nah, Safira, Risa, kalian boleh pilih yang mana saja. Gratis untuk hari ini.”
            Risa membelalak, dan langsung tersenyum lebar. Dia memilih sepeda fixie, dan aku memilih sepeda lipat. Kami berdua pun meninggalkan pusat penyewaan sepeda Pak Suharjo, mengayuh sepedanya dengan penuh semangat.
            “Ternyata, naik sepeda juga seru!”aku tertawa lega. Risa tersenyum lebar padaku, dan kami pun mengayuh sepeda lebih cepat agar tidak telat ke sekolah.
            Aku memandangi seluruh sudut kota Jakarta yang sangat panas ini. Aku membayangkan kota ini penuh dengan sepeda Pak Suharjo, sehingga BBM di Indonesia stoknya pun tidak mudah habis. Selain itu, aku juga merasa iba pada kota Jakarta yang semakin sakit, penuh dengan debu-debu yang berterbangan dengan kandungannya yang merusak tubuh kita. Andai saja impian Pak Suharjo berjalan lancar...
            Tak lama kemudian, kami sampai di gerbang sekolah. Kami mendapati bahwa seluruh tempat parkir sudah penuh dengan mobil dan motor, jadi kami menaruh sepeda Pak Suharjo di belakang sekolah. Kami beranggapan bahwa di situ sangat aman, dan juga, agar sepeda Pak Suharjo tetap mulus tanpa ada kerusakan setelah kami menyewanya.
            Di sekolah kami, kebanyakan anak berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor dan mobil. Kebanyakan berpikir naik sepeda hanya membuat kami semakin lelah dan tak konsentrasi belajar. Sebelum tadi pagi, aku berpikir begitu. Tetapi ternyata, naik sepeda justru menyegarkan. Seolah-olah polutan di Jakarta telah disapu habis oleh sepeda kami berdua. Walaupun panas, tetap saja menyenangkan.
            “Wah, nggak kebayang deh, anak yang paling sering naik mobil kok malah naik sepeda, ya?!”tiba-tiba Lina menepuk bahuku dari belakang. Amarah menggelayuti pikiranku, tapi Risa pun memberi isyarat padaku untuk diam.
            “Lalu, kamu punya masalah dengan ini?!”jawabku pelan.
            “Dimana tuh Alphard-mu? Diganti sama sepeda lipat, ya?!”celutuk Veronica–sahabat Lina–sambil tertawa.
            “Memangnya kalian tidak bosan naik mobil terus? Naik sepeda lebih seru, lho!”
            “Lebih baik naik fixie daripada motor-mu itu, Ver.”komentarku.
            Mereka menggerutu, dan meninggalkan kami berdua. Aku dan Risa tertawa keras, berniat untuk mengejek mereka. Apa masalahnya kalau naik sepeda? Toh memang menyenangkan, bukan?
            Lalu, kami pun memasukki ruangan kelas, sambil tetap tertawa karena kami telah membuat Lina dan Veronica mendengus kesal.

-TO BE CONTINUE-

gitagurl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Polka Dotted Pink Bow Tie Ribbon