Jumat, 18 Mei 2012

Ada Masalah Dengan Bersepeda? (Part II)


            Kriiiiiiing...Kriiiiiiing...Kriiiiing...
            Bel pulang berdenting keras. Aku dan Risa langsung menuju ke belakang sekolah, dan mengambil sepeda sewaan kami, beranjak pergi dari sekolah.
            Jakarta menjadi lebih panas setelah kami pulang. Suhu panas menyengat tubuhku, seolah-olah membakar tubuhku di panggangan. Keringat mengalir dari dahiku, sehingga tak henti-hentinya aku mengelap dahiku dengan sapu tangan. Aku mengeluh terus-menerus di atas jok sepeda, dan Risa pun menghiburku dengan tawaannya yang membuatku kesal.
            “Aku setiap hari kepanasan, tuh.”ucap Risa pelan.
            “Hm... terserah kau saja, deh.”
            Aku pun terdiam kesal. Kira-kira 5 menit setelah itu, kami sampai di pusat penyewaan sepeda Pak Suharjo. Seperti tadi pagi, Pak Suharjo masih melahap habis isi koran yang sedang beliau tekuni.
            “Pak, kami sudah selesai menyewanya. Terima kasih, ya, Pak.”ucap Risa pelan.
            “Oh, ada kalian berdua! Ayo, mari, ke sini dulu! Saya hendak memberikan kue kepada kalian. Tadi istri saya memanggang kue. Semoga kalian suka!”Pak Suharjo mengacak-acak rambutku, lalu mengusapnya pelan.
            “Terima kasih, Pak. Tetapi kami hendak menuju tempat les. Mungkin lain kali memakan kuenya?”jelasku.
            “Begitu, ya? Baiklah, ini, saya berikan kuenya. Makan saja di tempat les-mu. Semoga beruntung.”
            Aku melambaikan tanganku pada Pak Suharjo dan istrinya, lalu meninggalkan pusat penyewaan sepeda itu. Sebelum kami ke tempat les, kami duduk di halte dan melahap kue dari Pak Suharjo. Rasa kue itu sangat lezat, sehingga aku memakannya lebih dari satu kali. Akhirnya, kami pun berjalan kaki ke tempat les kami berada.
            Sesampainya di sana, kami langsung mencari tempat duduk di ruangan kami yang cocok, lalu tak lama setelah itu guru kami pun datang. Sekitar dua jam kami mengenyam pendidikan di tempat les itu, kami pun langsung pulang ke rumah masing-masing.
            Aku langsung menjatuhkan diri ke kasur di kamarku, memeluk gulingku seraya terlelap tidur.
                       
***
            Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Suhu yang dingin dipagi hari menusuk tubuhku, dan aku pun menggigil. Rintik-rintik hujan membasahi jalanan di depan rumahku. Kilatan cahaya menyambar-nyambar di jalanan, membuat pagi terasa lebih suram.
            “Pak, hari ini saya naik sepeda ke sekolah–maksud saya, mulai hari ini.”jelasku pada supir.
            “Kenapa, Non?”tanyanya.
            “Jadi begini, loh, Pak. Kemarin, saya diajak teman saya untuk naik sepeda. Naik sepeda itu sangat menyehatkan buat tubuh, Pak. Maka itu, saya beranggapan naik sepeda akan sangat menyenangkan.”
            “Oh, begitu, ya. Non ini sangat cerdas, ya. Baiklah, nanti saya laporkan kepada bapaknya Non.”
            “Sebenarnya sudah sih, Pak. Tapi tak apa, lah.”
            Aku pun pergi meninggalkan supirku, seraya menyambar handuk yang tergantung di depan dapur. Aku berlari-lari kecil menuju kamar mandi. Yah, kupikir kau tahu aku sedang melakukan apa.
            Sekitar 30 menit aku menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Kemudian, aku pun memakai baju seragamku dan berjalan menuju meja makan. Di sana makanan sudah tertata rapi, jadi, aku tinggal melahapnya.
            “Wah, anak ayah rajin, ya, sekarang naik sepeda.”puji ayah.
            “Iya, Yah. Habisnya, aku ingin impian Pak Suharjo berjalan lancar. Aku ingin Indonesia penuh dengan sepeda-sepeda yang menyejukkan kota. Aku harap nggak ada lagi yang namanya kekurangan BBM di Indonesia.”
            “Oh iya? Impianmu bagus, Nak. Ayah akan bantu.”
            Aku tersentak. Aku tidak bermimpi, kan?! AYAHKU INGIN MEMBANTUKU. Benarkah? Hm... bantuan ayah akan sangat bagus.
            Setelah aku melahap habis roti yang sudah disiapkan ibu, aku pun berangkat sekolah. Aku berjalan menuju halte, dan menunggu Risa datang. Tak lama setelah aku mengirim pesan kepadanya lewat handphone, muncullah batang hidung Risa dari balik pohon rindang di kanan halte. Dia mengepang rambutnya, dengan balutan bandana di atas kepalanya. Hari ini Risa tampaknya begitu senang.
            Kami pun berjalan menuju pusat penyewaan sepeda Pak Suharjo. Kali ini, Pak Suharjo sedang menyapu halamannya. Saat kami masuk ke dalam ruangan koleksi sepedanya, Pak Suharjo pun langsung beranjak pergi dari halamannya, menawarkan sepedanya kepada kami berdua.
            “Wah, hari ini saya mau naik sepeda ontel saja, deh.”tukas Risa. Dia pun menarik gagang sebuah ontel dengan pelan, dan perlahan dia naik ke atas joknya.
            “Itu pilihan yang bagus, Nak.”komentar Pak Suharjo. “Bagaimana dengan Safira?”
            “Saya mau sepeda fixie, Pak.”
            Aku menaiki sepeda fixie itu dan perlahan mengayuhnya. Kami melambaikan tangan kami kepada Pak Suharjo dan istrinya. Dan sekali lagi, kami diberikan kue. Rupanya, istri Pak Suharjo adalah pemilik sebuah perusahaan kue yang laris. Pak Suharjo dan istrinya sudah mempunyai banyak cabang perusahaan kue di Indonesia. Komentar para pembeli kuenya selalu saja bagus. Sejak saat itu, aku juga berlangganan kue Ibu Hanifah.
            Suatu hari, setelah kami sudah berbulan-bulan berlangganan sepeda Pak Suharjo, kami mendapati hal yang sangat buruk.
            Kami sudah sangat cocok dengan sepeda koleksi Pak Suharjo. Kami tak segan menaruh sepeda di tempat parkir, karena kami berpikir tempat ini juga cukup aman. Tetapi, saat bel pulang berdenting keras, dan saat kami keluar dari kelas, kami mendapati rantai sepeda Pak Suharjo putus. Kami merasa sangat bersalah, dan kami pun agak sedih saat mengembalikan sepedanya.
            “Pak, kami minta maaf sebesar-besarnya, Pak...”pinta Risa.
            “Tidak apa-apa, Nak. Tidak apa-apa.”Pak Suharjo mengelus rambut Risa.
            “Tapi kami merusak sepeda favorit milik bapak,”aku terisak. “Kami telah membuat sepeda favorit bapak menjadi rusak.”
            “Tidak usah sedih, anak-anak. Ini toh hanya sepeda, besok kalian boleh menyewa sepeda dengan gratis. Itu bukan masalah.”Pak Suharjo tersenyum lebar kepada kami.
            Aku dan Risa sangat terpukul atas kejadian itu. Akhirnya, Risa  pun ikut ke rumahku sebelum dia kembali ke rumah. Kami ingin membuat Pak Suharjo bangga. Dan ini semua semata-mata untuk membalas budi kepada Pak Suharjo. Kami telah merusak sepeda favoritnya, yang harganya pasti sangat mahal untuk membelinya. Walaupun Pak Suharjo sama sekali bukan orang miskin, kami tetap ingin melakukan sesuatu kepadanya. Sesuatu yang akan membuatnya sangat senang.
            “Aku punya ide, Fir.”
            “Apa idemu? Beritahu aku saja! Aku harap idemu itu tidak sulit.”
            “Ya, sebenarnya agak sulit, sih,”jawab Risa. “Aku ingin kita membuat artikel tentang menggunakan sepeda, lalu menyindir tentang penggunaan mobil terus menerus. Aku juga ingin kita mengirimnya ke mading sekolah. Bagaimana?”
            “Siapa yang akan membuat artikelnya?”
            “Kita berdua, tentu saja. Siapa lagi?”
            Sejak saat itu, kami menjadi sangat sering berkumpul di rumahku. Kami berdua sibuk membuat artikel yang sangat menarik tentang penggunaan sepeda. Sampai akhirnya, kami berhasil membuat artikelnya menjadi seperti ini:

            Sepeda Untuk Kehidupan
            Dibuat oleh: Alyssa Dhyanita Safira & Arisa Katalina

            Kalian tahu nggak, sih, apa manfaat dari naik sepeda? Wuih, banyak BANGET! Salah satunya, kalian dapat mengurangi penggunaan bahan bakar. Lho, kok bisa? Tentu saja. Karena, di saat kita menggunakan sepeda, otomatis kita toh tidak menggunakan mobil, kan? Atau motor? Jadi, bahan bakar yang digunakan menjadi lebih sedikit. Apalagi, naik sepeda itu menyehatkan, lho. Badan kita jadi lebih segar, dan tulang kita menjadi lebih kuat. Nafas kita jadi teratur, dan jantung kita pun jadi sehat. Nah, coba deh, bedakan dengan menggunakan motor/mobil. Jadi, lebih baik kepanasan atau nggak sehat, nih??
            Naik motor/mobil itu menyebabkan pencemaran. Hm... pencemaran apa tuh? Ya tentu saja pencemaran udara! Kalau kita memakai motor/mobil, pastinya kita telah memproduksi banyak banget CO (Karbon monoksida), abis itu juga CO2 (Karbon dioksida) dan masih buanyaaaaaaaaaaaaaak lagi. Kalau CO2 diproduksi terus, bakal ada kumpulan karbon dioksida di langit, yang bakal menghasilkan ‘Efek Rumah Kaca’. Waduh! Cuma gara-gara pengen cepat sampai ke sekolah dapat menyebabkan mencairnya es di kutub? Nggak banget deh! Selain itu, kalau kita naik motor/mobil juga nggak menyehatkan tubuh, lho. Kita kan cuma duduk dan nggak bergerak. Iya gak?
            Nah, selain itu, kalau kalian mau naik sepeda juga gampang. Kalian bisa menyewa sepeda. Nggak usah beli! Gimana? Gampang banget kan! Kita (penulis) juga nggak beli sepeda, kok. Kita menyewa, lho. Ada tempat penyewaan yang benar-benar menarik banget, nih, di dekat halte Jln. Flora Raya. Cuma untuk informasi aja! Di sana ada fixie, lipat, sampai sepeda ontel. Wah, menarik banget tuh! Pemiliknya adalah Pak Suharjo. Beliau sangat berambisi untuk membuat sepeda menjadi tren masa depan. Kalian mau, kan, menjadi manusia yang sehat tanpa penyakit? Selain itu, menurut kita, sebaiknya kalian jangan terlalu mementingkan kulit yang bakal hitam kalau naik sepeda. Kulit hitam itu sehat, lho. Coba saja naik sepeda! Dijamin seru! Dan juga, jangan lupa tanam pohon di rumah kalian untuk mengurangi polusi, ya.
            Sampai jumpa di dunia penuh sepeda ;)
            Sesekali aku dan Risa menyelingi artikel ini dengan bahasa yang agak gaul, sesuai dengan umur kami. Kami pun sangat bersemangat untuk menempel artikel ini di mading sekolah.
            Keesokan harinya, kami berangkat ke sekolah bersama-sama seperti biasa. Tak lupa kami menyewa sepeda dari Pak Suharjo, dan Pak Suharjo pun tertawa karena kami sangat semangat untuk berangkat sekolah. Andai saja Pak Suharjo tahu bahwa kami hendak melariskan tempat penyewaannya...
            Sesampainya kami di mading, kami pun langsung menempel artikel yang sudah kami cetak tadi malam, dan tidak lupa kami selipkan gambar-gambar mengenai penggunaan sepeda dan kekurangan BBM di Indonesia.
            Setelah itu, kami pun memasukki ruangan kelas yang sudah ramai, dan mulai berbincang-bincang mengenai artikel buatan kami di mading. Aku meminta Elia, Rahma, dan teman-teman satu kelas lainnya untuk membaca artikel kami. Tetapi, saat mereka kembali ke kelas, wajah mereka terlihat kecewa. Aku bertanya-tanya apakah dia kecewa karena sudah menggunakan mobil sangat lama, atau...
            “Tidak ada artikel baru, Ris. Padahal aku ingin sekali membaca artikelmu.”keluh Rahma.
            “Apa yang terjadi dengan artikel kalian?”
            “Maksud kalian itu apa? Aku jelas-jelas menempel artikelnya, Rahma. Serius, deh.”yakinku pada Rahma. Tetapi dia malah membalasku dengan bibir yang mengerucut.
            “Kutunggu madingmu lusa.”dia pun terkekeh.
            Aku menyeringai kepadanya, dan langsung menarik tangan Risa untuk mengecek artikel. Aku pun terguncang saat aku hanya menemukan gambar-gambar yang tertempel. Itu memang gambar yang kami tempel. Tetapi artikel kami mana? Rasa amarah bergejolak di hatiku. Rasanya aku ingin meruntuhkan mading ini. Kenapa? Kenapa setiap niat baik kami kepada Pak Suharjo selalu saja terbalas oleh hal yang tidak-tidak? Kami sangat ingin membuktikan betapa bangganya kami atas impian mulia Pak Suharjo, dan kami ingin melancarkannya. Tetapi justru yang terjadi malah... orang-orang kecewa karena kami. Akhirnya, kami pun kembali mencetak artikel kami, dan akan menempelnya besok.
            Dan keesokan harinya, di saat kami hendak menempelnya di mading... rupanya aku dan Risa sama-sama lupa membawanya. Kami terlalu sibuk menambah gambar di artikelnya, sehingga kami pun sampai lupa tentang artikelnya. Aku dan Risa sama-sama kecewa, dan kami pun sama-sama berjanji akan menempelnya besok pagi.
            “Kuharap besok akan aman. Pak Suharjo akan sangat bangga pada kita.”
            Keesokan harinya.
            Hari ini pastilah hari yang benar. Aku sudah mengecek artikelku, dan jelas-jelas aku membawanya, diselipi foto-foto mengenai topik. Aku dan Risa sudah sangat tak sabar, dan saat kami sampai di sekolah, kami pun langsung menempel di mading. Tapi ada hal yang sangat janggal disini.
            Hal itu adalah...
            Banyak sekali sepeda bertebaran di tempat parkir.
            Aku dan Risa terlonjak kaget, dan kulihat setiap anak yang berjalan dihadapan kami selalu saja menyapa kami, dan mengucapkan, ‘kalian membuka hatiku’ atau ‘ucapan kalian sangat menyenangkan’ atau bahkan ‘kalian superhebat’, membuat kami merasa sangat bangga.
            Tiba saatnya kami masuk kelas. Saat kami duduk, aku melihat Lina dan Veronica mendekati kami. Aku pikir mereka hendak mengejekku, tapi ternyata aku salah.
            “Aku minta maaf, ya, Arisa, dan Safira. Aku telah memutuskan rantai sepeda Pak Suharjo itu–”
            “JADI ITU ULAHMU?!”gertak Risa.
            “–aku sangat menyesal... rasanya aku ingin sekali membalas budi, aku ingin membuat kalian dapat memaafkanku.”
            “Dan aku juga.”tukas Veronica.
            “Aku tak tahu, deh, apa yang bisa kalian buat.”balasku kesal.
            “Saat aku memutuskan rantainya, aku dan Veron pun membuntuti kalian berdua. Kami melihat begitu tulusnya ucapan minta maaf kalian kepada Pak Suharjo yang kau sebut-sebut itu orang yang sangat baik... Lalu kami pun mengetahui bahwa kalian akan membuat artikel–”
            “Kaulah yang mencuri artikel kami!”bentak Risa pelan.
            ”–a ... aku minta maaf.”Lina pun meneteskan air matanya. “Aku dan Veron berniat untuk mempublikasikan artikel kalian lebih luas lagi... jadi aku pun beranggapan bahwa ayah Veron bisa membantu.”
            “Ayahku adalah pemilik perusahaan koran ‘Remaja Pertiwi’, favorit anak remaja masa kini. Jadi, aku berharap ayahku mau mempublikasikan artikelmu di halaman depan.”Veronica ikut menangis. “Kami minta maaf.”
            “Selain itu, kami pun meminta ayahmu–lewat ayahku sebagai teman satu kantor ayahmu–untuk memasukkan gambar-gambar artikel ke dalam flashdisk-mu, yang sudah aku cari bersama Veron. Maaf karena baru memberitahumu sekarang.”
            Aku dan Risa saling tatap-tatapan, dan kami pun memutuskan untuk mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Lina dan Veronica. Berkat mereka, usaha kami berjalan mulus, dan berkat mereka, kami tidak lagi berpikiran negatif atas diri mereka sendiri.
gitagurl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cute Polka Dotted Pink Bow Tie Ribbon